Tanggal 2 Syawal 1431 H, saya ke (kota) Blora bersama 'partner in crime', M.M (tapi bukan milimeter, sama sekali bukan). Mengambil kamera ke rumah mantan saya (mantan teman sekamar, kami sudah pisah ranjang, eh, pisah kamar dan kontrakan). Rencananya mau jalanjalan ke Sayuran, fotofoto bersama M.M.
Perlu anda ketahui, Sayuran adalah nama tempat di atas bukit. Sejuk udaranya, katanya. Di sana ada kolam renang. Setelah mengambil kamera, kami berangkat. Bersama Zara, kami menempuh perjalanan naik bukit. Masih di bawah, jalannya mulus. Ketika mulai mendaki, jalannya jelek. Sudah diingatkan oleh teman, jalannya jelek, mending ke tempat lain saja. Tapi, tingginya ekspektasi kami akan sebuah tempat bernama Sayuran membuat kami tidak peduli dengan kondisi jalan. Tempat yang sejuk di atas bukit, di tengah hutan jati yang teduh. Sepertinya indah.
Kami salah jalan, semestinya belok kanan, tapi kami belok kiri. Lumayan jauh nyasarnya. Hingga di suatu tempat bernama Waru. Sebuah desa yang terletak di bawah bukit dinding batu kapur. Yup, bukitnya seperti terbelah sehingga menampakkan dinding batu yang menjulang, membujur sepanjang bukit. Pengen rasanya naik ke atas bukit sehingga bisa memandang luas ke sekeliling. Tapi, kami menyadari kami salah jalan. Lalu kami kembali, mencari jalan yang benar.
Oke, kami sudah berada di jalan yang benar. Ternyata tidak jauh dari lokasi kami salah belok. Daaaaan... Uwow! Ini kah tempat bernama Sayuran itu? Apa yang terjadi kawankawan? Hohoho, ternyata kolam renangnya kering. Tidak terurus. Sepi. Terbengkalai. Dan, sama sekali tidak sejuk. Dan, tidak di tengah hutan jati yang teduh. Saya masih nggak percaya, ini kah tempat bernama Sayuran itu? Janganjangan saya salah.
Ya sudah, kurasa kami tidak mendapat apa yang kami inginkan. Menuju tempat lain yang disarankan oleh teman, Waduk Tempuran. Tidak jauh dari Sayuran. Jalan menuju Waduk dilewati ketika menuju Sayuran. Kondisi jalannya lebih baik.
Saya sudah lama mendengar tentang Waduk Tempuran. Ada sarana rekreasi air, tempat makan ikan bakar. Kalau kemarau airnya menyusut (dan September mestinya masih musim kemarau, walaupun kali ini banyak hujan. Serasa bukan September). Sampai di Waduk Tempuran, sesuai dengan apa yang saya dengar soal musim kemarau. Waduknya memang 'kering'. Tapi bukan karena kemarau sepertinya. Tapi karena sedang direnovasi. Pintu airnya diperbaiki. M.M fotofoto di dasar waduk. Sisi waduk yang lain dipisah dengan tanggul tanah. Di sana masih ada airnya.
Saat itu bertepatan dengan tengah hari, yang berarti pula saatnya makan siang. Terbayang lezatnya ikan bakar atau gurami goreng saus asam manis. Hmmm... Perut saya keroncongan dan saya pun sudah lesu. Karena paginya cuma makan mi sebagai syarat minum obat diare dan karena perjalanan yang melelahkan. Masuklah kami ke rumah makan. Ada tempat makan lesehan di tepi waduk, semestinya keren kalau air waduknya full. Hari itu hari kedua Lebaran. Dan... Rumah makannya puuuuenuh. Kalau orang Blora bilang 'wualllllaah ruuuuuaaaamene'. Tempat lesehan sudah penuh. Kami duduk di dalam saja. VIP Room, Layanan Cepat. We expect that. Di luar hujan, kami sekalian berteduh. Sekian lama, tak ada pelayan yang menghampiri meja kami. M.M mencoba memanggil. Mereka masih sibuk dengan tamutamu yang lain. Tak ada daftar menu di meja. Perut makin rame keroncongannya dan makin lesu. Saya sudah membayangkan lezatnya ikan goreng, segarnya jus buah. Ada sisa makanan dan minuman yang belum dibereskan di meja kami. Sekian lama, sekian lama... Kami seperti dicuekin, tidak dibutuhkan. Hujan mulai reda, kami memutuskan untuk keluar. Jadi kami ke situ hanya numpang berteduh, nunut ngiyup, sama numpang toiletnya. Gratisss. Hehe. (Lain kali kalau ke Tempuran jangan pas ramairamainya).
Akhirnya, kami kembali ke Blora. Mencari sate Blora. Eh, sate Blora itu terkenal ya? Apa sih yang bikin beda? Saya baru kedua kalinya itu makan di warung sate Blora. Di sebelah selatan alun-alun, di sebelah toko Gajah Mas, ada komplek warungwarung sate. Ada lontong tahu khas Blora, sate ayam, sate kambing, gulai. Sate Blora adalah sate ayam. Daging ayamnya dimasak dulu, bukan daging mentah yang dibakar. Bumbunya bumbu kacang. Gurih, tidak manis. Secara default sepertinya tidak memakai kecap. Sate ayam biasanya kan bumbunya saus kacang yang masih kasar dan berkecap sehingga bercita rasa manis. Makan sate Blora di warung sistemnya pay as you eat. Anda membayar sebanyak yang Anda makan, dihitung per tusuk sate. Sehabis makan, jangan cobacoba sembunyikan tusuk satenya karena itu yang akan dihitung. Nah itu di antara bedanya, kalau di tempat lain kan biasanya paket 10 tusuk sate. Sebenarnya saya ingin makan lontong tahu juga. Dulu waktu SMA kadangkadang dibelikan oleh ibu kost. Tapi saya sudah kenyang. Berdua habis 30 tusuk sate dan pastinya saya habis lebih banyak daripada M.M. (oiya, ibu kost saya itu punya warung pecel. jadi, tiap pagi waktu sma saya sarapan pecel. Aaaah... Pecel... Pecel juga nulis ini pake HP).
***
Waduk Tempuran. Adik saya bilang suatu hari nanti Mbaknya akan diajak makanmakan di Tempuran. (dan saya berpikir, ' iyo, kowe sing ngajak. Tetep aku sing mbayari. Hahaha)
9.13.2010
Sayuran, Waduk Tempuran, Sate Blora
Mudah-mudahan yg nulis bener-bener the Anonim jam 02.19 0 celotehan anak-anak
Langganan:
Postingan (Atom)